Rabu, 12 Oktober 2016

Artikel Pahlawan


Minimnya Jiwa Nasionalisme  Pemuda Sekarang Terhadap hari Pahlawan 

Pahlwan merupakan orang yang sangat memberikan pengaruh besar terhadap Negara Republik Indonesia. Sebab karena pahlawan kemerdekaan yang sudah berjalan selama 71 Tahun dan kebebasan dari penjajah juga sudah dirasakan pada saat sekrang ini. Dan dibalik kebebasan  kemerdekaan tersebut tidak jauh dari perjuangan para pahlwan yang telah berjuang mempertaruhkan nyawa mereka demi sebuah kemerdekaan yang ingin diraih.
Selain itu,kata pahlawan identik dengan perjuangan, peperangan dan tumpah darah. Semangat juang yang tiada henti dan tak kenal lelah, hingga mengorbankan nyawanya untuk melawan penjajah. Hal itu seakan menjadi kalimat yang melekat kepada seorang pahlawan.
Setiap memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, maka saat itulah semua insan di negeri ini berbondong-bondong mengibarkan bendera semangat kemerdekaan. Semua berdiri tegak memandang merah putih yang berkibar di ujung tiang tertinggi. Nyanyian Indonesia Raya berkumandang menyerukan semangat perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan perang. Terkadang kita lupa bahwa pahlawan sejatinya tidak hanya berperang melawan penjajah, akan tetapi juga berperang melawan kejamnya dunia.
Pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Banyak sekali cara yang dapat dilakukan sebagai bentuk manifestasi penghargaan pada para pahlawan dalam menghargai perjuangannya dan meneruskan cita-citanya yang luhur dan mulia. Salah satunya adalah setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan.
Sudahkah semua Pemuda Indonesia semangat Mengenal perjuangan para pahlawan ?
Mungkin hanya sebagian anak muda sekarang yang mau antusias untuk memaknai hari pahlwan dengan cara mengibarkan bendera merah putih dipergunungan, dilaut, atau bahkan membuat gerakan yang bertemakan untuk mengetahui para pahlwan. Dan itu hanya sebagian dari anak muda yang mau memaknai hari pahlwan tersebut.
Tapi disayangkan semangat kepahlawanan yang telah ditunjukkan para pahlawan/pejuang dalam pertempuran 10 November 1945 tersebut, tidak dihayati oleh para pemuda, tidak menjadi inspirasi, serta tidak menjadi sumber motivasi dalam mengisi kemerdekaan dengan berbagai program pembangunan guna mewujudkan cita-cita kemerdekaan RI.
Dan malah disayangkan sebagian dari anak muda tersebut malah asik dengan dunia yang berbasiskan teknologi (IPTEK) tanpa mau memaknai apa arti hari pahlwan. Bung Karno pernah berkata ““Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia.”. Begitu hebatnya pemuda zaman dahulu yang hanya dengan satu orang saja, Soekarno yakin mampu mengguncang dunia.
Selain itu, Pemuda adalah agen perubahan, begitu banyak kiasan-kiasan singkat tentang pemuda dan pemuda itu sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu negara. Tapi, adakah pemuda yang mau meluangkan waktunya untuk memaknai arti sebuah perjuangan para pahlawan dan adakah anak muda yang masih berjiwa nasionalisme dan peduli terhadap perjuangan pahlawan?
Pemuda kritis, pemuda peduli, pemuda yang mencintai bangsanya, itulah kondisi pemuda 16 tahun lalu sewaktu zaman batu, saat IPTEK belum secanggih sekarang. Dengan teknologi yang masih minim mereka bisa bersatu untuk menciptakan perubahan pada negeri ini dan mau menghargai perjuangan para pahlawannya dengan cara menghadiri upacara pengibaran bendera dan memaknai arti penting dari sebuah perjuangan. Kita bisa lihat hasil dari peran pemuda tahun 1998 di masa kini, pasca bergulirnya rezim reformasi. Perubahan secara drastis terhadap jiwa nasionalisme untuk mengenal para pahlawan kurang. Bagaimana antusias para pemuda terhadap perjuangan para pahlawan?
Perjuangan mereka dalam melawan para penjajahan demi meraih sebuah kebebasan untuk bangsa Indonesia harusnya diberi antusias yang tinggi terutama bagi seorang pemuda. Sebuah observasi yang pernah dilakukan di sebuah lapangan untuk menyambut antusias para pemuda menyambut hari pahlawan dengan cara menanyakan nama-nama para pahlwan seperti Imam Bonjol, Suprapto, Cut Nyakdin, R.A Kartini, Bung Tomo, Sisinga Mangaraja, Bung Hatta, Sutomo, Ahmad Yani, Muhammad Yamin, Budi Utomo, Pattimura, Pangeran Antasari, Abdul Haris Nasution, Adnan Kapau Gani. Para pemuda tersebut hanya bisa tertawa karena tidak tahu siapa nama para pahlwan yang diajukan kepada mereka, dimana letak jiwa antusias mereka. Hanya sebatas mengingat nama mereka para pemuda pun tak sekarang tak snggup untuk mengingatnya, apalagi mengenang bagaimana perjuang ang telah para pahlawan korbankan bagi suatu Negara.
Dan alangkah lucunya, ketika kita tinggal, lahir dan besar dinegara yang diperjuangkan para pahlwan tanpa mengetahui siapa sosok mereka dan bagaimana perjuangan mereka dalam mempertahankan Indonesia. Tak Cuma hanya sekedar itu saja, bagaimana para pahlwan rela menjadi pengkhianat untuk Negara lain untuk bisa mendapatkan informasi bagaimana mereka bisa membebaskan bangsa Indonesia dari kejaran para penjajah yang datang ke Indonesia. Jiwa para pemuda luntur sekarang hanya sebuah IPTEK yang begitu canggih sehingga memalingkan mata dan jiwa mereka mengenal para pahlawan dan perjuangan mereka.
Mungkin untuk sekarang para peruda haruslah berubah demi perjuangan para pahlawan.  Negara ita tidak akan pernah bisa menjadi sehebat ini, jika kita tidak memilki pahlawan sehebat mereka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar