Minimnya Jiwa Nasionalisme Pemuda Sekarang Terhadap hari Pahlawan
Pahlwan merupakan orang yang sangat memberikan pengaruh besar
terhadap Negara Republik Indonesia. Sebab karena pahlawan kemerdekaan yang
sudah berjalan selama 71 Tahun dan kebebasan dari penjajah juga sudah dirasakan
pada saat sekrang ini. Dan dibalik kebebasan kemerdekaan tersebut tidak jauh dari
perjuangan para pahlwan yang telah berjuang mempertaruhkan nyawa mereka demi
sebuah kemerdekaan yang ingin diraih.
Selain itu,kata pahlawan identik dengan perjuangan,
peperangan dan tumpah darah. Semangat juang yang tiada henti dan tak kenal
lelah, hingga mengorbankan nyawanya untuk melawan penjajah. Hal itu seakan
menjadi kalimat yang melekat kepada seorang pahlawan.
Setiap memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November,
maka saat itulah semua insan di negeri ini berbondong-bondong mengibarkan
bendera semangat kemerdekaan. Semua berdiri tegak memandang merah putih yang
berkibar di ujung tiang tertinggi. Nyanyian Indonesia Raya berkumandang
menyerukan semangat perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan perang.
Terkadang kita lupa bahwa pahlawan sejatinya tidak hanya berperang melawan
penjajah, akan tetapi juga berperang melawan kejamnya dunia.
Pepatah mengatakan bahwa
bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Banyak sekali
cara yang dapat dilakukan sebagai bentuk manifestasi penghargaan pada para
pahlawan dalam menghargai perjuangannya dan meneruskan cita-citanya yang luhur
dan mulia. Salah satunya adalah setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia
merayakan Hari Pahlawan.
Sudahkah semua Pemuda Indonesia semangat Mengenal perjuangan
para pahlawan ?
Mungkin hanya sebagian anak muda sekarang yang mau antusias untuk
memaknai hari pahlwan dengan cara mengibarkan bendera merah putih
dipergunungan, dilaut, atau bahkan membuat gerakan yang bertemakan untuk
mengetahui para pahlwan. Dan itu hanya sebagian dari anak muda yang mau
memaknai hari pahlwan tersebut.
Tapi
disayangkan semangat kepahlawanan yang telah ditunjukkan para pahlawan/pejuang
dalam pertempuran 10 November 1945 tersebut, tidak dihayati oleh para pemuda, tidak
menjadi inspirasi, serta tidak menjadi sumber motivasi dalam mengisi
kemerdekaan dengan berbagai program pembangunan guna mewujudkan cita-cita
kemerdekaan RI.
Dan malah disayangkan sebagian dari anak muda tersebut
malah asik dengan dunia yang berbasiskan teknologi (IPTEK) tanpa mau memaknai apa
arti hari pahlwan. Bung Karno pernah berkata ““Berikan
aku seribu orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku
satu pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia.”. Begitu hebatnya pemuda zaman
dahulu yang hanya dengan satu orang saja, Soekarno yakin mampu mengguncang
dunia.
Selain itu,
Pemuda adalah agen perubahan, begitu banyak kiasan-kiasan singkat tentang
pemuda dan pemuda itu sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu negara. Tapi,
adakah pemuda yang mau meluangkan waktunya untuk memaknai arti sebuah
perjuangan para pahlawan dan adakah anak muda yang masih berjiwa nasionalisme dan
peduli terhadap perjuangan pahlawan?
Pemuda kritis, pemuda peduli, pemuda yang mencintai
bangsanya, itulah kondisi pemuda 16 tahun lalu sewaktu zaman batu, saat IPTEK
belum secanggih sekarang. Dengan teknologi yang masih minim mereka bisa bersatu
untuk menciptakan perubahan pada negeri ini dan mau menghargai perjuangan para
pahlawannya dengan cara menghadiri upacara pengibaran bendera dan memaknai arti
penting dari sebuah perjuangan. Kita bisa lihat hasil dari peran pemuda tahun
1998 di masa kini, pasca bergulirnya rezim reformasi. Perubahan secara drastis
terhadap jiwa nasionalisme untuk mengenal para pahlawan kurang. Bagaimana antusias
para pemuda terhadap perjuangan para pahlawan?
Perjuangan mereka dalam melawan para penjajahan demi meraih sebuah
kebebasan untuk bangsa Indonesia harusnya diberi antusias yang tinggi terutama
bagi seorang pemuda. Sebuah observasi yang pernah dilakukan di sebuah lapangan
untuk menyambut antusias para pemuda menyambut hari pahlawan dengan cara
menanyakan nama-nama para pahlwan seperti Imam Bonjol, Suprapto, Cut Nyakdin,
R.A Kartini, Bung Tomo, Sisinga Mangaraja, Bung Hatta, Sutomo, Ahmad Yani,
Muhammad Yamin, Budi Utomo, Pattimura, Pangeran Antasari, Abdul Haris Nasution,
Adnan Kapau Gani. Para pemuda tersebut hanya bisa tertawa karena tidak tahu
siapa nama para pahlwan yang diajukan kepada mereka, dimana letak jiwa antusias
mereka. Hanya sebatas mengingat nama mereka para pemuda pun tak sekarang tak
snggup untuk mengingatnya, apalagi mengenang bagaimana perjuang ang telah para
pahlawan korbankan bagi suatu Negara.
Dan alangkah lucunya, ketika kita tinggal, lahir dan besar dinegara
yang diperjuangkan para pahlwan tanpa mengetahui siapa sosok mereka dan
bagaimana perjuangan mereka dalam mempertahankan Indonesia. Tak Cuma hanya
sekedar itu saja, bagaimana para pahlwan rela menjadi pengkhianat untuk Negara
lain untuk bisa mendapatkan informasi bagaimana mereka bisa membebaskan bangsa
Indonesia dari kejaran para penjajah yang datang ke Indonesia. Jiwa para pemuda
luntur sekarang hanya sebuah IPTEK yang begitu canggih sehingga memalingkan
mata dan jiwa mereka mengenal para pahlawan dan perjuangan mereka.
Mungkin
untuk sekarang para peruda haruslah berubah demi perjuangan para pahlawan. Negara ita tidak akan pernah bisa menjadi
sehebat ini, jika kita tidak memilki pahlawan sehebat mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar