Rabu, 12 Oktober 2016

Kumpulan Cerpen

Pengalaman Kan jadi Motivasi Hidup ku


Pagi hari yang cerah itu matahari dengan gagahnya memancarkan cahanya kehadapan bumi pertiwi ku ini, dan pagi ini adalah pagi dimana aku merasa berbeda dengan pagi dimana aku punya masa lalu, dan hari ini adalah hari yang begitu semangat karena hari ini ku perkenalkan bagi anak muda bagaimana mimpi dan inspirasi itu hadir dalam kehidupan ku.
Perkenalkan nama ku Rizky Aris Putra, lebih sering di panggil Aris, aku mahasiswa di salah satu universitas di medan, dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dan aku punya adik cowok namanya gak jauh bedadengan ku bedanya Cuma ditengah, kalau aku Aris dan dia Adi.
“ pengalaman adalah guru yang sangat berharga dan gak bisa dilupakan” itu kata-kata yang sering aku gunakan dalam hidup ku, yang jelasnya kalau bukan dari pengalaman mungkin sampai sekarang sarjana dan duduk di bangku universitas itu adalah sebuah mimpi yang mustahil ku dapat. Jadi hargailah semua kegagalan yang ada pada diri mu, karena mungkin kau akan jadi sukses karena sebuah pengalaman.
Siapa sih gak gak punya masa lalu, dan pastinya masa lalu itu indah dan kadang menyakitkan. Dan pada diri ku masa lalu itu adalah hal yang sangat menyakitkan sebab aku kehilangan seluruh anggota keluarga ku, karena ke egoisan yang selalu menjadi pemicu kerusakan keluarga kami.
Dulu sewaktu aku kecil kira-kira berumur 08 tahun tepatnya kelas 3 SD, waktu itu kehidupan keluarga kami harmonis penuh canda tawa, dan kebutuhan ekonomi kami pada saat itu juga cukup memadai, tiba ketika aku berumur sekitar 09 tahun semua berubah, entah apa yang terjadi semua nya berubah menjadi keluarga yang menurut ku seperti hujan meteor yang jatuh dari langit, kemudian menghancurkan seluruh keluarga kami.
Pada saat itu, aku yang masih keadaan anak-anak yang gak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tiba-tiba pertengkaran dimulai di depan mata ku.
“ kamu mau kemana mas, udah malam seperti ini mau pergi lagi, kamu mau kemana sebenarnya, ungkap ibu dengan nada yang tinggi.
“ ngapain kau urus aku, aku keluar kan untuk carik makan, untuk bisa ngasih makan diri mu anak mu dan anak yang kau kandung sekarang, tahu! Makanya jangan Cuma tahu buat anak aja tapi pikirkan bagaimana aku bisa kasih makan kalian semua.” Ujar ayah dengan mata yang melotot.
“ tega-tega nya kamu bolang begitu mas, anak yang aku kandung ini juga anakmu, buka seperti kamu yang suka mainkan perempuan lain luar sana,” kata ibu kembali dengan keadaan menangis.
“ jaga mulut kamu, anak mu dengar apa yang kamu bicarakan,” ujar ayah sambil menampar ibu dan langsung pergi keluar rumah.
Pada saat itu, keluarga ku menjadi bahan omongan tetangga sekitar rumah ku.
“ Ris, ayah mu gak pulanglagi mala mini ya, dan tadi malam kenapa kok rebut banget dirumah mu,” ungkap salah satu tetangga rumah ku.
“ kenapa Aris nangis, Aris jangan nangis makanya Aris sebagai anak laki-laki satu-satunya juga marah sama ibunya aris kenapa mau punya adik gak dibilang dulu sama suaminya, kan marah jadinya ayah aris,” sambung teman tetangga tersebut.
Tak lama dari perkataan tetangga tersebut, aku mulai membenci ibu dan adik yang di kandung ibu ku saat itu. Dan pada saat itu juga aku berubah menjadi anak yang bandel, yang malas sekolah,suka cabut, dan sering bertengkar dengan teman.
Pada suatu malam, ayah ku pulang dengan keadaan mabuk, dan membawa perempuan kerumah, dan pertengkaran orang tua ku pun di mulai lagi.
“ apa-apaan sih kamu mas, siapa perumpuan ini! Dan kamu ya perempuan jalang masih mau dijalan sama suami orang, perempuan macam apa kamu, perusak rumah tangga orang,” ungkap ibu.
“ Ah! Kamu ya jadi perempuan itu jangan banyak bacot, tau nya ngoceh aja, kamu lihat dong dia cantik, seksi, mulus gak seperti kamu jelek, gendut, apa lagi perut kamu yang semakin lama semakin membesar buat jelek aja,” ujar ayah sambil menertawai ibu.
“ iya aku jelek, gendut dan gak seseksi dia, tapi aku gak sehina dia yang suka ganggu rumah tangga orang lain! Dan kamu perempuan jalang pergi dari rumah ini, jangan pernah ganggu suami aku lagi,” ungkap ibu.
“ Ah!!, bosan aku dirumah ini ” ujar ayah sambil membawa perempuan tersebut keluar dari rumah.
“ kamu lihat perilaku ayah mu, dan itu gak jauh beda dari mu, ungkap ibu kepada ku.
Berselang dua jam ibu tiba-tiba minta tolong, karena dia ingin melahirkan, dan pada saat itu juga tetangga disekitar rumah ku berdatangan menolong ibu ku, dan pada saat ibu ku ingin melahirkan aku dan ayah mu gak hadir dirumah sakit. Aku lebih memilih ketempat baskem anak jalanan yang gak lama ku kenal dan ayah mu sampai sekarang aku gak tahu kenapa dia gak datang pada saat ibu ku melahirkan adik ku.
Tahun pun berganti seperti halnya umur ku yang bertambah pula, saat itu aku duduk di bangku kelas dua SMA dan adik ku Adi kira-kira duduk di bangku kelas satu SMP. Dan kembali kepada ibu ku,sekarang dia buka usaha warung didepan rumah itulah penghasilan untuk memberi makan kami dan yang gak berubah dari ibu aku itu selalu ngomel baik itu pagi dan malam itu itu membuat kami berdua sangat bosan berada dirumah. Dan ayah ku, dengar-dengar sih udah punya istri lagi, soalnya dia udah lama gak pulang. Dia tinggal di Negara entah berantah mana pun kami gak pernah tahu dan gak mau tahu juga.
Sampai akhirnya ibu ku dipanggil kesekolah karena masalah sepele, aku gak bayar uang SPP udah berapa bulan dan uang SPP yang selama ini aku jadikan untuk judi. Dan inilah pembicaraan ibu dan kepala sekolah ku
“ permisi buk, saya ibunya Rizky Aris Putra, boleh saya masuk,” ujar ibu
“ boleh silahkan masuk buk! Begini buk, Aris udah tiga bulan tidak bayar uang SPPnya,apakah ada masalah yang membuat Aris tidak bayar uang SPPnya selama tiga bulan,” ujar kepala sekolah.
“ saya setiap bulannya memberi dia uang SPPbuk, tapi saya kurang tahu kenapa uang SPPnya tidak sampai ke sekolah, nanti saya akan tanya dengan dia,” ungkap ibu.
Dan setelah itu, ibu pulang kerumah dan gak lama kemudian aku pun pulang kerumah
“ Aris, dari mana kamu, disekolah tadi kamu tidak masuk kan, dan ibu mau tanya sama kamu kamu buat apa uang SPP yang setiap bulannya ibu kasih ke kamu,”ungkap ibu
“ Ah! Sibuk banget sih ibu, aku mau buat kemana uang itu ya terserah aku, ibu itu terlalu banyak ngomel jadi orang! Gek mana ayah gak tinggalin ibu, udah jelek, gendut dan suka ngomel lagi,” ungkap ku.
“ kamu ya gak sopan bicara sama orang tua, apa guna sekolah kamu kalu etika bicara kamu tidak ada dengan orang tua mu sendiri, mulai besok gak usah kamu sekolah,” ungkap ibu dengan nada marah.
“ gak sopan kata ibu! Kayaknya aku agak sopan ya masih mau panggil dirimu itu sebutan ibu dan masih mau anggap diri mu itu orang tua aku, dank au bilang aku sopan lagi! Coba bandingkan dengan kalian membawa perempuan dengan keadaan mabuk,terus tiap hari bertengkar didepan mata kepalaku, dan ayah yang dikatakan imam dalam keluarga ini! Mana dia sekarang, apa itu yang dikatakan orang tuanyang sopan samaa anaknya, mengumbar keegoisan dalam keluarga, dan hari-hari aku menjalani hidupku, itu seperti neraka, hidup dalam ombang ambil keluarga yang gak jelas dimana ayah yang gak jelas sekarang dimana dan di dengar udah nikah lagi, dan yang herannya status mu itu dalam hidup ayah entah apa,” ungkap Aris
“ dan uang yang selama ini yang kau kasih aku gunakan untuk judi, dan aku rasa pekerjaan ku gak lebih hina dari suami mu itu,” tambahku
Dan setelah kejadian tersebut, ibu ku gak pernah lagi tanya kenapa aku gak pulang kerumah, kenapa adik aku setiap hari lama pulang. Dan setelah kejadian tersebt dia lebih sering melamun dan menangis, tapi itu gak pernah menjadi persoalan dalam hidup ku karena hanya kebencian yang selalu didalam hidup mu. Sampai akhirnya suatu musibah menimpa ku, aku butuh uang untuk judi, jadi aku berencana untuk mencopet, tapi kali itu usaha yang aku rencanakan sia-sia. Aku digebukin masyarakat sampai ada seorang pemulung yang menolong ku dari kerumunan masyarakat tersebut.
“ ada apa ini! Kenapa kalian main hakim sendiri seperti ini kalian mau dipanggilkan polisi. Ini keluarga ku jadi biar aku yang mengurus, kan barang yang diambil juga tidak ada yang berkurang kan,” ungkap pemulung tersebut.
“ ada yang sakit nak, kita menepi dulu ya, biar saya obati luka yang ad dimuka mu itu,” tambah pemulung tersebut.
Saat itu aku Cuma bisa diam dan menatap pemulung tersebut, dan disitu aku berpikir kalau misalkan gak ada pemulung ini yang nagku sebagai keluarga aku mungkin aku akan babak belur dibuat masyarakat sekitar sini, dan yang aku heran kan kok mau ya dia menolng dan mengaku aku sebagai keluarganya. Padahal aku juga gak pernah mengenal siap dia.
“ udah pak,gak usah lanjutkan! Saya gak apa-apa, bapak lanjutkan saja pekerjaan bapak,” ujar ku
“ tidak apa-apa saya ikhlas menolong mu,” ungkap pemulung tersebut.
“ gak usah pak, saya harus pergi sekarang saya punya urusan lagi, dan makasih sudah menolong saya,” tambah saya
Di sepanjang jalan aku berpikir apa yang sebenarnya terjadi dalam diri ku, hidup ku terasa capek, dan gak punya arah tujuan. Dan ketika itu suara adzan seolah begitu merdu ditelinga ku, dan hari itu menjadi hari yang bersejarah bagi ku, karena karena adzan tersebut membuat aku menangis dan mengingat ibu ku dan adik ku dirumah.
Setelah aku sholat, seorang ustadz memberikan siraman rohani yang membuat ku tersentuh, aku meneteskan air mata yang tanpa henti-hentinya membasahi pipi ku, perbuatan yang selama ini ku buat kepada ibu ku, kata-kata kasar, hinaan, dan kebencian yang menjadi penghancur dari kelurgaku. Dan dari situ aku termotivasi dari siraman rohani tersebut, aku berpikir bukan ini jalan yang harus ku tempuh banyak hal yang bisa ku manfaatkan untuk bisa membhagiakan ibu dan adikku. Aku sudah slah menilai semua ini terkadang pandangan yang aku lihat terkadang menjadi semu karena kebencian yang menutupi diri ku.
Tak lama dari itu, aku berlari kerumah untuk mencium kaki, dan meminta maaf kepada ibu ku. Disaat aku ingin sampai kerumah ku lihat ibu dengan keadaan yang linglung berjalan dihampiran pasar yang ramai kendaraan, dan ketika ingin ku panggil sebuah mobil menyambar ibu, smapai akhirnya ibu terpontal ke jalan dan saat itu, aku bingung harus berbuat apa, semua orang sibuk menolong ibu ku tapi aku linglung dengan arah hidup ku saat itu, aku merasaini sebuah mimpi yang gak akanpernah mau ku alami. Tapi pada saat itu keadaan yang seolah mimpi bagiku, memang betul terjadi. Aku berlutut dipasar tersebut dan memohon ampun kepada Allah atas segala perbuatan yang telah aku lakuan selama ini kepada keluarga ku. Dan saat itu aku berjanji untuk tidak akan bebuat seperti itu kembali dan akan menjadikan ibuku bangga kepada ku. Tapi semua terlambat ibu ku dipanggilnya tanpa sempat ku minta maaf langsung dan tak sempat untuk mencium kakinya tersebut.
Dan tak lama setelah kematian ibu dua orang polisi datang kerumah ku dan mengatakan bahwa adik ku Rizky Adi Putra ditahan, karena pengedar sabu tersebar dan sekaligus pengguna, jadi adik ku harus ditahap oleh pihak kepolisian sampai beberapa tahun.
Sekarang penyesalan ku tak sudah, tapi aku tidak pernah berputus asa, aku tetap melanjutkan sekolah ku hingga sampai ke perguruan tinggi karena motivasi dari seorang ustadz tersebut.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar