KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji dan Syukur kami
ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya kami dapat
menyusun makalah Evaluasi Diagnosis Kesulitan Belajar kami yang berjudul “
Diagnosis Kesulitan Belajar”
Makalah ini kami susun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Evaluasi Diagnosis Kesulitan Belajar, Jurusan Bimbingan
Konseling Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
Sumatera Utara. Selain itu, penulisan
makalah ini diharapkan dapat membantu rekan-rekan untuk memahami materi yang
akan dipaparkan oleh pemakalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan disebabkan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang kami
miliki. Untuk itu, kami meminta dari pembaca kritikan dan saran yang dapat
membangun. Demekian lah makalah kami,buat, kami ucapkan terima kasih.
Medan,
17 Oktober 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………… ii
BAB I
PENDAHULUAN
A
.Latar Belakang ………………………………………………………….. 1
B.
Rumusan masalah ……………………………………………………….. 1
c.
Tujuan penulis …………………………………………………………… 1
BAB II
POKOK
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Diagnosis Kesulitan Belajar………………………………… 2
B. Pengertian
Diagnosis Kesulitan Belajar Menurut Ahli ……………...… 3
C. Langkah-langkah Diagnosis Kesulitan Belajar ………………………… 3
D. Tujuan Diagnosis Kesulitan Belajar …………………………………….. 6
E. Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar …………………………………. 6
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan ……………………………………………………………… 9
Daftar Pustaka …………………………………………………………… 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Keberhasilan dalam melaksanakan suatu tugas merupakan dambaan setiap orang.
Berhasil berarti terwujudnya harapan. Hal ini juga menyangkut segi efisiensi
dalam belajar , rasa percaya diri, ataupun prestise. Lebih-lebih bila
keberhasian tersebut terjadi pada tugas atau aktivitas yang berskala besar.
Namun perlu disadari bahwa pada dasarnya setiap tugas atau aktivitas selalu berakhir
pada dua kemungkinan yaitu berhasil atau gagal.
Belajar
merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas yang lain. Keberhasilan
dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga
oleh orang tua, guru, dan juga masyarakat. Dan Setiap siswa berhak memperoleh hasil belajar
dengan baik. Namun ada kendala dalam pembelajarannya. Dimana setiap siswa tidak
mempunyai kesamaan dalam proses pembelajaran. Di setiap sekolah-sekolah yang
pada umumnya hanya ditujukan pada siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata.
Sedangkan siswa yang berkemampuan lebih dan berkemampuan kurang terabaikan. Hal
inilah yang mengakibatkan adanya kesulitan belajar pada siswa-siswa yang
berkemampuan lebih dan berkemampuan kurang.
2.
Rumusan Masalah
-
Apa
yang dimaksud dengan Diagnosis kesulitan belajar ?
-
Apa
saja langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar ?
-
Apa
saja tujuan diagnosis kesulitan belajar ?
-
Apa
saja prosedur diagnosis kesulitan belajar ?
3.
Tujuan Masalah
-
Untuk
memahami konsep dasar diagnosis kesulitan belajar.
-
Untuk
mengetahui langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar.
-
Untuk
memahami tujuan diagnosis kesulitan belajar.
-
Untuk
memahami prosedur diagnosis kesulitan belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Diagnosis
Dilihat dari akar katanya, “Diagnosa atau
diagnosis berasal dari kata Yunani atau Greek “ dia” berarti
“sebagian”, “Gigno skein” berarti mengetahui, “Gnosis” berarti
pengetahuan/ pengenalan/ ilmu”. Jadi, Diagnosis
merupakan kefasihan dalam mengidentifikasi penyakit yang satu dengan yang lain
atau penentuan penyakit dengan mengenali gejala dengan cermat.[1]
Selain
itu, Diagnosis kesulitan belajar adalah Proses menentukan masalah atau
ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang
penyebab dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau
hambatan belajar yang nampak. Kemudian, Diagnosis kesulitan belajar adalah
upaya sistematis yang dilakukan oleh guru untuk memahami secara mendalam siswa
yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Diagnosis
Kesulitan Belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar
dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari
suatu kelemahan tertentu, serta memprediksi kemungkinan-kemungkinan dan
menyarankan tindakan pemecahannya.[2]
Adapun contoh dari anak yang mengalami kesulitan belajar, antara
lain:
1.
Hasil
belajar yang rendah
2.
Hasil
belajar tidak sesuai dengan usaha
3.
Lambat
dalam melakukan tugas kegiatan belajar
4.
Sikap
yang kurang wajar
5.
Perilaku
yang berkelainan
6.
Gejala
emosional yang kurang wajar
7.
Kesulitan
dalam berbicara dan berbahasa
8.
Permasalahan
dalam kemampuan akademik
9.
Kesulitan
lainnya yang mencangkup kesulitan dalam
mengoordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang
belum mencangkup oleh kedua kategori diatas.
B. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar Menurut Ahli
Menurut Thorndike dan Hagen, Beliau
mengartikan diagnosis sebagai berikut :[3]
a.
Upaya atau proses menemukan
kelemahan atau penyakit yang dialami seseorang melalui pengujian dan studi yang
seksama mengenai gejala-gejalanya
b.
Studi yang seksama terhadap fakta
tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan
sebagainya.
c.
Keputusan yang dicapai setelah
dilakukan studi secara seksama atau gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Dari
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosis itu bukan hanya sekedar mengidentifikasi, tetapi
juga memutuskan prediksi kemungkinan-kemungkinan untuk menyarankan cara
pemecahannya.
Bila kegiatan diagnosis diarahkan pada masalah yang terjadi pada belajar,
maka disebut sebagai diagnosis kesulitan belajar. Melalui diagnosis kesulitan
belajar gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan dalam belajar
diidentifikasi, dicari faktor-faktor yang menyebabkannya, dan diupayakan jalan
keluar untuk memecahkan masalah tersebut.
C.Langkah-langkah Diagnosis
Kesulitan Belajar
Diagnosis dilakukan dalam rangka memberikan solusinya terhadap
siswa yang mengalami diagnosis kesulitan belajar. Untuk dapat memberikan
solusinya secara tepat atas kesulitan siswa,guru harus terlebih dulu melakukan
identifikasi (upaya mengenali gejala-gejala secara cermat terhadap
fenomena-fenomena yang menunjukan adanya kemungkinan adanya kesulitan belajar
yang melanda siswa). [4]
Dalam melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa, perlu ditempuh
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Melakukan observasi
kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
Untuk melakukan obsservasi terhadap siswa bisa dilakukan dengan
cara menandai siapa siswa yang diduga mengalami kesulitan. Contohnya di dalam
kelas guru sudah menandai Ojan sebagai siswa yang mengalami kesulitan belajar. Diantaranya
dapat dilihat dari :[5]
a.
Hasil belajar Sejarah yang dicapai Ojan lebih rendah dibawah
rata-rata.
b.
Hasil belajar Sejarah yang
dicapai Ojan sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c.
Hasil belajar Sejarah yang
dicapai oleh Ojan tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d.
Lambatnya Ojan dalam
melakukan tugas-tugas belajar.
e.
Ojan menunjukkan sikap yang
kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran,
mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f.
Ojan menunjukkan perilaku
yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
g.
Ojan menunjukkan gejala emosional
yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak
agresif, dan lain-lain.
2.
Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga
mengalami kesulitan belajar.
Berkaitan dengan mengidentifikasi secara fisik. Dimana guru juga
harus peka akan hal ini. Karena pada dasarnya setiap siswa memiliki kelebihan
dan kelemahan yang berbeda-beda dalam penglihatan dan pendengarannya dalam
proses pembelajaran. Contohnya siswa Ojan diidentifikasi penglihatan dan
pendengarannya oleh gurunya di kelas, hal yang dilakukan guru, antara lain :
a.
Identifikasi
penglihatan: Guru melakukan pengujian penglihatan kepada Ojan dengan cara
memindahkan Ojan untuk duduk dari jajaran paling depan sampai jajaran paling
belakang.
b.
Identifikasi pendengaran: Guru melakukan pengujian pendengaran
kepada Ojan dengan cara memindahkan Ojan untuk duduk dari jajaran paling depan
sampai jajaran paling belakang. Serta guru harus menyesuaikan volume suaranya.
3.
Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal
keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
Hal itu berkaitan dengan latar belakang dan faktor penyebab. Menurut
Umar dan Sartono mengungkapkan latar belakang diagnosis kesulitan belajar,
dengan cara :
a.
Menganalisis dokomen-dokumen tentang siswa yang bersangkutan yang
mencakup : identitas pribadi, riwayat pendidikan, prestasi belajar, latar
belakang kehidupan keluarga, bakat dan minatnya, kecerdasan, cita-citanya, pribadi
serta lingkungannya ( sosial dan kulturalnya), kesehatan dan hobinya.
b.
Melakukan wawancara dengan siswa, orang tua siswa yang
bersangkutan, dan lain-lain.
4.
Memeberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk
mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
Tes dalam bidang tertentu misalnya dalam bidang mata pelajaran
Sejarah dengan materi Hindu-Budha yang diberikan kepada Ojan berupa soal-soal
Pilihan Ganda dan soal Esay.
5.
Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa
yang diduga mengalami kesulitan belajar.[6]
Biasanya dalam sekolah mengadakan tes psikologi yang dibantu oleh
klinik psikologi dalam mengukur kemampuan intelegensi (IQ) siswa termasuk Ojan.
Selain itu juga bisa dilakukan sendiri-sendiri, sesuai dengan pernyataan bahwa untuk
keperluan tes IQ, guru dan orangtua siswa dapat berhubungan dengan klinik
psikologi. Dari hasil tes tersebut dapat ditindak lanjuti berkaitan pemecahan
masalah sesuai dengan kesulitan belajar siswa.
Secara umum, langkah diatas dapat dilakukan dengan mudah oleh
guru, kecuali langkah ke 5 ( tes IQ). Untuk keperluan tes IQ, guru dan orang
tua siswa dapat berhubungan dengan klinik psikologi. Dalam hal ini, yang sangat
perlu dicatat ialah apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar itu ber IQ
jauh dibawah normal (tuna grahita), orang tua hendaknya mengirimkan siswa
tersebut ke lembaga-lembaga/sekolah khusus untuk anak-anak tuna grahita
(sekolah luar sekolah), karena lembaga/ sekolah biasa tidak menyediakan tenaga
pendidik dan kemudahan belajar khusus untuk anak-anak anormal. Selanjutnya,
para siswa yang nyata-nyata menunjukkan misbehavior berat, seperti perilaku
agresif yang berpotensi antisosial atau kecanduan narkotika, harus diperlakukan
secara khusus pula. Umpanya dimasukkan ke lembaga permasyrakatan anak-anak atau
ke “pesantreri” khusus pecandu narkotika.[7]
D.
Tujuan Diagnosis Kesulitan Belajar[8]
1.
Menurut Angelina dan Ch. Enny tujuan
diagnosis adalah untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa,
termasuk kesalahan pemahaman konsep.
2.
Menurut Mardapi, tujuan diagnosis adalah untuk memberikan
informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami.
E.
Prosedur Diagnosis
Kesulitan Belajar
Diganosis kesulitan belajar merupakan
suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka
diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara
sistematis. Menurut Rosss dan Stanley tahapan-tahapan diagnosis kesulitan
belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :[9]
1.Who are the
pupils having trouble ?
(Siapa siswayang mengalami gangguan).
2.Where are
the errors located ?
(Di manakah
kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan )
3.Why
are the errors occur ?
(Mengapa kelemahan-kelemahan
itu terjadi )
4.What are
remedies are suggested?
(Penyembuhan apa saja yang disarankan)
5.
How can errors
be prevented ?
(Bagaimana
kelemahan-kelemahan itu dapat dicegah ).
Pendapat Roos
dan Stanley tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam memecahkan masalah atau
kesulitan belajar mahasiswa dengan tahapan kegiatan sebagai berikut :
1.
Menganalisis prestasi belajar
Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan
bila : Pertama, indeks prestasi (IP) yang bersangkutan lebih rendah dibanding
IP rata-rata klasnya. Kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari
sebelumnya, dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan
sebenarnya.
2.
Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
Analisis perilaku terhadap mahasiswa yang diduga mengalami kesulitan
belajar dilakukan dengan : pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan
dengan perilaku mahasiswa lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas
yang sama; kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku
yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.
3.
Menganalisis hubungan sosial
Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui
dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat diketahui individu-individu yang
terisolasi dari kelompoknya. Gejala tersebut merupakan salah satu indikator
kesulitan belajar.
b. Melokalisasi letak kesulitan
belajar
Setelah mahasiswa-mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar
diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
1.
Pada mata kuliah apa yang bersangkutan mengalami kesulitan.
2.
Pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
3.
Pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kesulitan terjadi.
4.
Pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar
diusahakan untuk dapat diungkap. Tahap ini para ahli memandang sebagai tahap
yang paling sulit, mengingat penyebab kesulitan belajar itu sangat kompleks,
sehingga hal tidak dapat dipahami secara sempurna, meskipun oleh seorang ahli
sekalipun.
d.
Memperkirakan alternatif pertolongan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah
sebagai berikut.
1.
Apakah mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin
untuk ditolong ?
2.
Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut
?
3.
Kapan dan di mana proses pemberian bantuan
tersebut dilaksanakan ?
4.
Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian
bantuan tersebut ?
5.
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?
e.
Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama,
teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua,
teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi
lagi.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
a.
Pengertian
Diagnosis Belajar
Diagnosis
Kesulitan Belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar
dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari
suatu kelemahan tertentu, serta memprediksi kemungkinan-kemungkinan dan
menyarankan tindakan pemecahannyaTeori
Perkembangan.
b.
Langkah-langkah
Diagnosis Kesulitan Belajar
-
Melakukan
obeservsai kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti
pelajaran.
-
Memeriksa
penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan
belajar.
-
Mewawancarai
orang tua atau wali untuk mengetahui hal-hal keluarga siswa yang mungkin
menimbulkan kesulitan belajar.
-
Memberikan
tes diagnositik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan
belajar yang dialami siswa
-
Memberikan
tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami
kesulitan belajar
c. Tujuan Diagnosis Kesulitan Belajar
Menurut Mardapi, tujuan
diagnosis adalah untuk memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum
dipahami dan yang telah dipahami.
d. Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan
kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri
dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis.
DAFTAR PUSTAKA
Mustaqin.
2008. Psikologi Pendidikan. Semarang : Pustaka Pelajar Offset.
Sopiatin,
Popi dan Suhari Sahrani. 2011. Psikologi Belajar. Bogor : Ghalia
Indonesia.
Syah,
Muhibbin. 2009. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tohirin.
2006. Psikologi Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam. Jakarta : Raja Grafindo.
Winansih,
Varia. 2008. Pengantar Psikologi Pendidikan. Bandung : Raja Grafindo
Persada.
[2]
Mustaqim, PsikologiPendidikan. (Semarang: Pustaka Pelajar Offset, 2008)
hal.35
[3]Varia
Winansih, Pengantar Psikologi. (Bandung: PT. Raja Grafindo Persada,
2008) hal. 29
[4] Tohirin.. Psikologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Jakarta
: Raja Grafindo, 2006) hal.142
[5] Ibid
hal. 143
[6] Ibid
hal.144
[7]
Muhibbin syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2009) hal. 172
[8]
Varia Winansih, Pengantar Psikologi . hal. 32
[9]
Mustaqin, Psikologi Pendidikan hal. 38
[10] Ibid
hal.39
[11] Ibid
hal.40
Tidak ada komentar:
Posting Komentar