Senin, 05 Desember 2016

Diagnosis Kesulitan Belajar


KATA PENGANTAR

      Alhamdulillah, Puji dan Syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya kami dapat menyusun makalah Evaluasi Diagnosis Kesulitan Belajar kami yang berjudul “ Diagnosis Kesulitan Belajar
      Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Diagnosis Kesulitan Belajar, Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Selain itu,  penulisan makalah ini diharapkan dapat membantu rekan-rekan untuk memahami materi yang akan dipaparkan oleh pemakalah.
      Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan disebabkan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kami meminta dari pembaca kritikan dan saran yang dapat membangun. Demekian lah makalah kami,buat, kami ucapkan terima kasih.



                                                                                                                                                                          Medan,  17 Oktober  2016



                                                                                                            Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………..   i     

DAFTAR ISI ………………………………………………………………    ii
                                                                                                                       
BAB I                                                                                                                                           
PENDAHULUAN
A .Latar Belakang …………………………………………………………..    1     
B. Rumusan masalah ………………………………………………………..    1     
c. Tujuan penulis ……………………………………………………………    1     

BAB II
 POKOK PEMBAHASAN
A. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar…………………………………     2     
B. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar Menurut Ahli ……………...…      3
C. Langkah-langkah Diagnosis Kesulitan Belajar  …………………………    3
D. Tujuan Diagnosis Kesulitan Belajar ……………………………………..    6
E. Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar   ………………………………….    6


BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan ………………………………………………………………    9

Daftar Pustaka  ……………………………………………………………  10     


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Keberhasilan dalam melaksanakan suatu tugas merupakan dambaan setiap orang. Berhasil berarti terwujudnya harapan. Hal ini juga menyangkut segi efisiensi dalam belajar , rasa percaya diri, ataupun prestise. Lebih-lebih bila keberhasian tersebut terjadi pada tugas atau aktivitas yang berskala besar. Namun perlu disadari bahwa pada dasarnya setiap tugas atau aktivitas selalu berakhir pada dua kemungkinan yaitu berhasil atau gagal.
Belajar merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas yang lain. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan juga masyarakat. Dan Setiap siswa berhak memperoleh hasil belajar dengan baik. Namun ada kendala dalam pembelajarannya. Dimana setiap siswa tidak mempunyai kesamaan dalam proses pembelajaran. Di setiap sekolah-sekolah yang pada umumnya hanya ditujukan pada siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata. Sedangkan siswa yang berkemampuan lebih dan berkemampuan kurang terabaikan. Hal inilah yang mengakibatkan adanya kesulitan belajar pada siswa-siswa yang berkemampuan lebih dan berkemampuan kurang.
2.      Rumusan Masalah
-          Apa yang dimaksud dengan Diagnosis kesulitan belajar ?
-          Apa saja langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar ?
-          Apa saja tujuan diagnosis kesulitan belajar ?
-          Apa saja prosedur diagnosis kesulitan belajar ?

3.       Tujuan Masalah
-          Untuk memahami konsep dasar diagnosis kesulitan belajar.
-          Untuk mengetahui langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar.
-          Untuk memahami tujuan diagnosis kesulitan belajar.
-          Untuk memahami prosedur diagnosis kesulitan belajar.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Diagnosis
      Dilihat dari akar katanya, “Diagnosa atau diagnosis berasal dari kata Yunani atau Greekdia” berarti “sebagian”, “Gigno skein” berarti mengetahui, “Gnosis” berarti pengetahuan/ pengenalan/ ilmu”. Jadi,  Diagnosis merupakan kefasihan dalam mengidentifikasi penyakit yang satu dengan yang lain atau penentuan penyakit dengan mengenali gejala dengan cermat.[1]
Selain itu, Diagnosis kesulitan belajar adalah Proses menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebab dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak. Kemudian, Diagnosis kesulitan belajar adalah upaya sistematis yang dilakukan oleh guru untuk memahami secara mendalam siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Diagnosis Kesulitan Belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan tertentu, serta memprediksi kemungkinan-kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.[2]

Adapun contoh dari anak yang mengalami kesulitan belajar, antara lain:
1.      Hasil belajar yang rendah
2.      Hasil belajar tidak sesuai dengan usaha
3.      Lambat dalam melakukan tugas kegiatan belajar
4.      Sikap yang kurang wajar
5.      Perilaku yang berkelainan
6.      Gejala emosional yang kurang wajar
7.      Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
8.      Permasalahan dalam kemampuan akademik
9.      Kesulitan lainnya yang mencangkup kesulitan dalam  mengoordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum mencangkup oleh kedua kategori diatas.
B. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar Menurut Ahli
Menurut Thorndike dan Hagen, Beliau mengartikan diagnosis sebagai berikut :[3]
a.       Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit yang dialami seseorang melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya
b.      Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya.
c.       Keputusan yang dicapai setelah dilakukan studi secara seksama atau gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosis itu  bukan hanya sekedar mengidentifikasi, tetapi juga memutuskan prediksi kemungkinan-kemungkinan untuk menyarankan cara pemecahannya.

Bila kegiatan diagnosis diarahkan pada masalah yang terjadi pada belajar, maka disebut sebagai diagnosis kesulitan belajar. Melalui diagnosis kesulitan belajar gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan dalam belajar diidentifikasi, dicari faktor-faktor yang menyebabkannya, dan diupayakan jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut.

C.Langkah-langkah Diagnosis Kesulitan Belajar
Diagnosis dilakukan dalam rangka memberikan solusinya terhadap siswa yang mengalami diagnosis kesulitan belajar. Untuk dapat memberikan solusinya secara tepat atas kesulitan siswa,guru harus terlebih dulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala-gejala secara cermat terhadap fenomena-fenomena yang menunjukan adanya kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa). [4]
Dalam melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa, perlu ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
Untuk melakukan obsservasi terhadap siswa bisa dilakukan dengan cara menandai siapa siswa yang diduga mengalami kesulitan. Contohnya di dalam kelas guru sudah menandai Ojan sebagai siswa yang mengalami kesulitan belajar. Diantaranya dapat dilihat dari :[5]

a.       Hasil belajar Sejarah yang dicapai  Ojan lebih rendah dibawah rata-rata.
b.      Hasil belajar Sejarah yang dicapai Ojan sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c.       Hasil belajar Sejarah yang dicapai oleh Ojan tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d.      Lambatnya Ojan dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e.       Ojan menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f.       Ojan menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
g.      Ojan menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dan lain-lain.

2.      Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Berkaitan dengan mengidentifikasi secara fisik. Dimana guru juga harus peka akan hal ini. Karena pada dasarnya setiap siswa memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam penglihatan dan pendengarannya dalam proses pembelajaran. Contohnya siswa Ojan diidentifikasi penglihatan dan pendengarannya oleh gurunya di kelas, hal yang dilakukan guru, antara lain :
a.        Identifikasi penglihatan: Guru melakukan pengujian penglihatan kepada Ojan dengan cara memindahkan Ojan untuk duduk dari jajaran paling depan sampai jajaran paling belakang.
b.      Identifikasi pendengaran: Guru melakukan pengujian pendengaran kepada Ojan dengan cara memindahkan Ojan untuk duduk dari jajaran paling depan sampai jajaran paling belakang. Serta guru harus menyesuaikan volume suaranya.
3.      Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.

Hal itu berkaitan dengan latar belakang dan faktor penyebab. Menurut Umar dan Sartono mengungkapkan latar belakang diagnosis kesulitan belajar, dengan cara :
a.       Menganalisis dokomen-dokumen tentang siswa yang bersangkutan yang mencakup : identitas pribadi, riwayat pendidikan, prestasi belajar, latar belakang kehidupan keluarga, bakat dan minatnya, kecerdasan, cita-citanya, pribadi serta lingkungannya ( sosial dan kulturalnya), kesehatan dan hobinya.
b.      Melakukan wawancara dengan siswa, orang tua siswa yang bersangkutan, dan lain-lain.

4.      Memeberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
Tes dalam bidang tertentu misalnya dalam bidang mata pelajaran Sejarah dengan materi Hindu-Budha yang diberikan kepada Ojan berupa soal-soal Pilihan Ganda dan soal Esay.

5.      Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.[6]
Biasanya dalam sekolah mengadakan tes psikologi yang dibantu oleh klinik psikologi dalam mengukur kemampuan intelegensi (IQ) siswa termasuk Ojan. Selain itu juga bisa dilakukan sendiri-sendiri, sesuai dengan pernyataan bahwa untuk keperluan tes IQ, guru dan orangtua siswa dapat berhubungan dengan klinik psikologi. Dari hasil tes tersebut dapat ditindak lanjuti berkaitan pemecahan masalah sesuai dengan kesulitan belajar siswa.
Secara umum, langkah diatas dapat dilakukan dengan mudah oleh guru, kecuali langkah ke 5 ( tes IQ). Untuk keperluan tes IQ, guru dan orang tua siswa dapat berhubungan dengan klinik psikologi. Dalam hal ini, yang sangat perlu dicatat ialah apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar itu ber IQ jauh dibawah normal (tuna grahita), orang tua hendaknya mengirimkan siswa tersebut ke lembaga-lembaga/sekolah khusus untuk anak-anak tuna grahita (sekolah luar sekolah), karena lembaga/ sekolah biasa tidak menyediakan tenaga pendidik dan kemudahan belajar khusus untuk anak-anak anormal. Selanjutnya, para siswa yang nyata-nyata menunjukkan misbehavior berat, seperti perilaku agresif yang berpotensi antisosial atau kecanduan narkotika, harus diperlakukan secara khusus pula. Umpanya dimasukkan ke lembaga permasyrakatan anak-anak atau ke “pesantreri” khusus pecandu narkotika.[7]

D. Tujuan Diagnosis Kesulitan Belajar[8]
1.      Menurut Angelina dan Ch. Enny tujuan diagnosis adalah untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, termasuk kesalahan pemahaman konsep.
2.      Menurut Mardapi, tujuan diagnosis adalah untuk memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami.

E.  Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
         Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Menurut Rosss dan Stanley tahapan-tahapan diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :[9]
1.Who are the pupils having trouble ?
 (Siapa siswayang mengalami gangguan).
2.Where are the errors located ? 
(Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan )
3.Why are the errors occur ? 
(Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi )
4.What are remedies are suggested? 
(Penyembuhan apa saja yang disarankan)
5.      How can errors be prevented ? 
(Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat dicegah ).

Pendapat Roos dan Stanley tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam memecahkan masalah atau kesulitan belajar mahasiswa dengan tahapan kegiatan sebagai berikut :

a.        Mahasiswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan :[10]

1.      Menganalisis prestasi belajar
Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan bila : Pertama, indeks prestasi (IP) yang bersangkutan lebih rendah dibanding IP rata-rata klasnya. Kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya, dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.

2.      Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
Analisis perilaku terhadap mahasiswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan : pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku mahasiswa lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama; kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.

3.      Menganalisis hubungan sosial
Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat diketahui individu-individu yang terisolasi dari kelompoknya. Gejala tersebut merupakan salah satu indikator kesulitan belajar.

b.      Melokalisasi letak kesulitan belajar
Setelah mahasiswa-mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
1.      Pada mata kuliah apa yang bersangkutan mengalami kesulitan.
2.      Pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
3.      Pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kesulitan terjadi.
4.      Pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.

c.       Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar[11]
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Tahap ini para ahli memandang sebagai tahap yang paling sulit, mengingat penyebab kesulitan belajar itu sangat kompleks, sehingga hal tidak dapat dipahami secara sempurna, meskipun oleh seorang ahli sekalipun.

d.      Memperkirakan alternatif pertolongan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut.
1.      Apakah mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin untuk ditolong ?
2.      Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut ?
3.      Kapan dan di mana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan ?
4.      Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut ?
5.      Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?

e.       Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi.

BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
a.       Pengertian Diagnosis Belajar
      Diagnosis Kesulitan Belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan tertentu, serta memprediksi kemungkinan-kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannyaTeori Perkembangan.
b.      Langkah-langkah Diagnosis Kesulitan Belajar
-          Melakukan obeservsai kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
-          Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
-          Mewawancarai orang tua atau wali untuk mengetahui hal-hal keluarga siswa yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
-          Memberikan tes diagnositik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa
-          Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar

c.       Tujuan Diagnosis Kesulitan Belajar
Menurut Mardapi, tujuan diagnosis adalah untuk memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami.
d.      Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis.
DAFTAR PUSTAKA

Mustaqin. 2008. Psikologi Pendidikan. Semarang : Pustaka Pelajar Offset.
Sopiatin, Popi dan Suhari Sahrani. 2011. Psikologi Belajar. Bogor : Ghalia Indonesia.
Syah, Muhibbin. 2009. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tohirin. 2006. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Raja Grafindo.
Winansih, Varia. 2008. Pengantar Psikologi Pendidikan. Bandung : Raja Grafindo Persada.














[1] Popi Sopiatin  dan Suhari Sahrani. Psikologi Belajar. (Bogor : Ghalia Indonesia, 2011) hal. 56
[2] Mustaqim, PsikologiPendidikan. (Semarang: Pustaka Pelajar Offset, 2008) hal.35
[3]Varia Winansih, Pengantar Psikologi. (Bandung: PT. Raja Grafindo Persada, 2008) hal. 29
[4] Tohirin.. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Jakarta : Raja Grafindo, 2006) hal.142
[5] Ibid hal. 143
[6] Ibid hal.144
[7] Muhibbin syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009) hal. 172
[8] Varia Winansih, Pengantar Psikologi . hal. 32
[9] Mustaqin, Psikologi Pendidikan hal. 38
[10] Ibid hal.39
[11] Ibid hal.40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar