BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikologi
merupakan ilmu pengatahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka
dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam
hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang,
barang, keadaan, dan kejadian yang ada di sekitar manusia.
Psikologi
sebagai ilmu pengetahuan yang berupaya memahami perbedaan dan perilaku manusia
termasuk para siswa yang yang satu sama lainnya berbeda. Para pendidik
khususnya para guru sekolah sangat diharapkan memiliki pengetahuan psikologi
yang memadai agar dapat mendidik para siswa melalui proses belajar mengajar
yang berdaya guna dan berhasil guna.
Kegiatan pembelajaran merupakan inti dari kegiatan pendidikan secara
keseluruhan. Dalam prosesnya, kegiatan ini melibatkan interaksi individu yaitu
pengajar di satu pihak dan pelajar di pihak lain. Keduanya berinteraksi dalam
satu proses yang disebut belajar-mengajar atau proses pembelajaran yang
berlangsung dalam situasi belajar-mengajar pula. Supaya terjadi proses
pembelajaran yang efektif dan efisien, maka perilaku yang terlibat dalam proses
tersebut hendaknya dapat didinamiskan secara baik. Pengajar (guru) hendaknya mampu
mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu menghasilkan perilaku
belajar siswa melalui interaksi belajar-mengajar yang efektif dalam situasi
belajar mengajar yang kondusif.
Untuk dapat menghasilkan proses
belajar mengajar yang baik di dalam kelas dan dapat mencapai tujuan dari
pendidikan maka diperlukan psikologi sebagai suatu alat bagi guru untuk
melaksanakan pembelajaran di dalam kelas dan juga untuk mencapai tujuan pendidikan
yang telah ditetapkan. Oleh karena itu di dalam makalah ini akan dibahas
implikasi psikologi dalam proses pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan psikologi ?
2. Apa
yang dimaksud dengan belajar ?
3. Bagaimana
implikasi psikologi dalam proses pembelajaran ?
C. Tujuan penulisan
1. Agar
dapat memahami tentang psikologi
2. Agar
dapat memahami tentang belajar
3. Agar
dapat mengaplikasikan psikologi dalam proses pembelajaran
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Psikologi
Psikologi dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari
bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua
akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu psyche yang
berarti jiwa dan logos berarti ilmu. dengan demikian Secara harfiah psychology
diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.[1]
Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena
sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi
dari jiwa/ mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses kegiatan.
Sehingga psikologi dapat didefenisikan sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari tingkah laku. Ada beberapa pengertian psikologi menurutpara ahli
diantaranya:
Chaplin dalam dictionary of Psychology mendefinisikan
psikologi sebagai the science of human and animal behavior, the study of the
organism in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow
of the physical and social events which make up the environment. (Psikologi
adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan
terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika meereaksi arus
dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah
lingkungan).
Sementara itu,Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld
mendefinisikan psikologi jauh lebih sederhana dari pada definisi di atas, yakni
psikologi ialah studi tentang hakikat manusia.
Selanjutnya, dalam Ensiklopedia pendidikan, Poerbakawatja dan
Harahap membatasi arti psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang
mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa. Dalam
ensiklopedia ini dibatasi pula bahwa gejala dan kegiatan jiwa tersebut meliputi
respons organisme dan hubungannya dengan lingkungan.[2]
Dari penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku
yang terbuka dan tertutup pada manusia,baik selaku individu maupun kelompok
dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalamhal ini meliputi semua
orang, barang, dan kejadian yang ada di sekiatar manusia.
B.
Pengertian Belajar
Belajar
adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental
dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa
berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada
proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada disekolah maupun
dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Ada
beberapa pengertian belajar yang diungkap oleh para ahli diantaranya
1. Menurut
Chaplin (1972) belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman
2. Menurut
Rober (1989) belajar adalah proses memperoleh pengetahuan.
3. Menurut
Skinner seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Education Psychlogy: The Teaching-Learning Process berpendapat
bahwa belajar adalah suatu proses
adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.[3]
4. Menurut
Crow dan Crow dalam buku Educational
Psychology (1958) menyatakan “Learning
is acquisition of habits, knowledge, and attitude”, belajar adalah
memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Belajar dengan memuaskan
minat individu untuk mencapai tujuan.
5. Menurut
C.T Morgan, belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkha
laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.[4]
Bertolak
dari berbagai definisi yang telah diutarakan oleh para ahli, dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu
yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan
yang melibatkan proses kognitif.
C. Implikasi Psikolgi dalam Proses Pembelajaran
1.
Implikasi Psikologi dalam Bidang Pendidikan
Menurut istilah, “pendidikan” juga disebut dengan pedagogik. Bahasa
ini berasal dari bahasa Yunani kuno, yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “paes” dan “gogos”. Paes yang berarti
anak dan gogos yang artinya penuntun.
Jadi paedadagogos artinya adalah penuntun anak.
Secara terperinci pendidikan dapat diartikan sebagai pertolongan
yang diberikan orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak
untuk menuju tingkat kedewasaan yang lebih baik. Pendidikan juga suatu proses,
suatu aktifitas/ suatu rangsangan yang diarahkan kepada memproduktif
perubahan-perubahan tingkah laku dari seseorang yang diinginkan sesuai dengan
tujuan-tujuan dari pendidikan. Tingkah laku disini diartikan tidak hanya tiap
aksi, tiap respon, atau apa saja yang dikerjakan oleh seseorang tetapi juga apa
yang dipikirkan, pandangan-pandangannya serta sikap-sikapnya.
Dalam hal ini psikologi banyak digunakan dalam berbagai bidang
antara lain sebagai berikut:
a.
Kurikulum
Psikologi dipakai untuk pertimbangan dalam menyusun GBPP
(Garis-garis Besar Dalam Program Pengajaran), dalam hal ini berguna agar sesuai
dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak, usia anak dan sebagainya.
b.
Pengajaran
Bagi pendidik dan calon pendidik sangatlah penting kalau membekali
diri dengan psikologi sebelum melakukan tugasnya sebagai pengajar, karena
psikologi dapat membantu pendidik untuk menghadapi anak didiknya. Contohnya:
dalam mengajar, pendidik dapat memanfaatkan penilaian pendidikan untuk
memotivasi atau memberi dorongan kepada anak didik agar menjadi yang lebih
baik, pendidik juga dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah.
c.
Tata
tertib sekolah
Psikologi dimanfaatkan sebagai dasar pembuatan tata tertib agar
anak tidak merasa tertekan, tapi dengan kesadarannya sendiri anak mau mengikuti
tata tertib yang telah dibuat oleh sekolah.
Pendidikan merupakan bidang profesi yang terbanyak menerapkan
psikologi, setidaknya menurut Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan dengan
pendekatan baru, ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerlukan
prinsip-prinsip psikologis , yaitu sebagai berikut:
·
Seleksi
penerimaan siswa baru
·
Perencanaan
pendidikan
·
Penyusunan
kurikulum
·
Penelitian
pendidikan
·
Administrasi
kependidikan
·
Pemilihan
materi pelajaran
·
Interaksi
belajar mengajar
·
Pelayanan
bimbingan
·
Metodologi
mengajar
·
Pengukuran
dan evaluasi
Manfaat psikologi dalam bidang pendidikan
1)
Membantu
para tenaga pendidik dalam mengembangkan pemahaman mengenani kependidikan dan
prosesnya.
2)
Memecahkan
masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan
metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis.
3)
Merumuskan
tujuan pembelajaran secara tepat.
4)
Memilih
strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
5)
Memberikan
bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
6)
Memfasilitasi
dan memotivasi belajar peserta didik.
7)
Menciptakan
iklim belajar yang kondusif.
8)
Berinteraksi
secara tepat dengan siswanya.
9)
Menilai
hasil pembelajaran yang adil.[5]
2.
Implikasi Teori-teori Belajar Dalam Psikologi
a)
Implikasi Teori-teori Belajar dari Psikologi Behavioristik
1. Prosedur-prosedur Pengembangan Tingkah Laku
Baru
a.Shaping
Kebanyakan yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah tingkah laku
kompleks, bukan hanya simple response. Tingkah
laku yang kompleks ini dapat diajarkan melalui proses shaping atau successive apporoximations,
beberapa tingkah laku yang mendekati respon terminal. Proses ini dimulai dengan
penetapan tujuan, kemudian diadakan analisis tugas, langkah-langkah kegiatan
murid, dan reinforcement terhadap
respons yang diinginkan.
Fraznier mengemukakan lima langkah perbaikan tingkah laku belajar
murid yaitu sebagai berikut:
a. Datang di kelas pada waktunya.
b. Berpartisipasi dalam belajar dan merespons guru.
c. Menunjukkan hasil-hasil tes dengan baik.
d. Mengerjakan pekerjaan rumah.
e. Penyempurnaan.
b. Modelling
Modelling adalah suatu bentuk belajar yang tak dapat disamakan dengan classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam modeling, seseorang yang belajar
mengikuti kelakuan orang lain sebagi model. Tingkah laku manusia lebih banyak
dipelajari melalui modeling atau
imitasi dari pada melalui pengajaran langsung.
Bandura mebagi tingkah laku imitative menjadi tigs macam yaitu:
a.
Inhibitory-disinhibitory effect: kuat
lemahnya tingkah laku oleh karena pengalaman tak menyenangkan.
b.
Eleciting effect:
ditunjangnya suatu respons yang pernah terjadi dalam diri, sehingga timbul
respons serupa.
c.
Modeling effect:
pengembangan respons-respons baru melalui observasi terhadap suatu model
tingkah laku. Modeling dapat dipakai
untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan akademis dan motorik.
2.Prosedur-prosedur Pengendalian atau
Perbaikan Tingkah Laku
a.
Memperkuat
Tingkah Laku Bersaing
Dalam usaha mengubah tingkah laku yang tidak diinginkan diadakan
penguatan tingkah laku yang diinginkan misalnya dengan kegiatan-kegiatan
kerjasama, membaca dan bekerja di satu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan
menentang dan melamun.
b.
Ekstingsi
Ekstingsi dilakukan dengan membuat/meniadakan peristiwa-peristiwa
penguat tingkah laku. Ekstingsi dapat dipakai bersama-sama dengan metode lain
seperti modeling.
Guru-guru sering mengalami kesulitan mengadakan ekstingsi karena
mereka harus belajar mengabaikan misbehavioris
tertentu. Tentu saja ada jenis-jenis tingkah laku yang dapat diabaikan oleh
guru-guru terutama tingkah laku yang menyinggung perasaan murid-murid.
c.
Satiasi
Satiasi adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan
perbuatan berulang-ulang sehingga ia menjadi lelah dan jera. Contohnya: seorang
ayah yang memergoki anak kecilnya merokok menyuruh anak merokok sampai habis
satu pak sehingga anak itu bosan.
d.
Hukuman
Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya diterapkan di
kelas dengan bijaksana.; hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tak
diinginkan dalam waktu singkat untuk itu perlu disertai dengan reinforcement. Hukuman menunjukkan apa
yang tak boleh dilakukan murid, sedangkan reward
menunjukkan apa yang mesti dilakukan murid.
Bukti menunjukkan bahwa hukuman atas kelakuan murid yang tak pantas
lebih efektif dari pada tidak menghukum. Ada dua bentuk hukuman yaitu sebagai
berikut:
1.
Pemberian
stimulus derita, misalnya bentakan, cemoohan, atau ancaman.
2.
Pembatalan
perlakuan positif, misalnya mengambil kembali suatu mainan atau mencegah anak
untuk bermain-main bersama teman-temannya.[6]
b. Implikasi
Teori-teori Belajar Psikologi Kognitif
Ahli psikologi berpendapat bahwa tingkah laku seseorang selalu
didasarkan pada kognisi, yaitu suatu perbuatan mengetahui atau perbuatan
pikiran terhadap situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Tiga tikoh penting
pengembang teori psikologi kognitif, yaitu:
1.
Piaget
Mengemukakan tentang perkembangan kognitif anak sesuai dengan
perkembangan usia.
2.
Bruner
Mengembangkan psikologi kognitif dengan mengemukakan metode belajar
discovery.
3.
Ausubel
Berpendapat jika pengetahuan disusun dan disajikan dengan baik,
siswa akan dapat belajar dengan efektif melalui buku teks dan metode-metode
ceramah.
Psikologi Gestalt ini kemudian dikembangkan oleh Kurt Lewin dengan cognitive-field psychology-nya. Teori
Lewin mendasarkan pada life space,
yaitu dunia psikologi dari pada kehidupan individu. Ia menjelaskan bahwa
tingkah laku belajar merupakan usaha untuk mengadakan reorganisasi atau
restruktur. Psikologi Gestalt menyusun belajar itu ke dalam pola-pola tertentu
jadi bukan bagian-bagian.
1.Implikasi Teori Piaget untuk Pendidikan
Para pendidik memandang bahwa teori Piaget itu dapat dipakai
sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata
pelajaran di dalam kurikulum. Studi Piaget mengisyaratkan agar guru meneliti
bahasa siswa dengan saksama untuk memahami kualitas berpikir anak di dalam
kelas. Deskripsi Piaget mengenai hubungan antara tingkat perkembangan
konseptual anak dengan bahan pelajaran yang kompleks menunjukkan bahwa guru
harus memperhatikan apa yang harus diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Situasi
belajar yang ideal adalah keserasian antara bahan pengajaran yang kompleks
dengan tingkat perkembangan konseptual ana. Jadi, guru harus dapat menguasai
perkembangan kognitif anak, dan menentukan jenis kemampuan yang dibutuhkan oleh
anak untuk memahami bahan pelajaran itu.
Strategi belajar yang dikembangkan dari teori Piaget ialah
menghadapkan anak dengan sifat pandangan uang tidak logis. Anak sulit mengerti
sesuatu pandangan yang berbeda dengan pandangannya sendiri. Tipe kelas yang
dikehendaki oleh Piaget menekankan pada transmisi pengetahuan melalui metode
ceramah diskusi dan mendorong guru untuk betindaksebagai katalisator dan siswa
belajar sendiri. Tujuan pendidikan bukanlah meningkatkan jumlah pengetahuan,
tetapi meningkatkan kemungkinan bagi anak untuk menemukan dan menciptakan
sendiri.
Satu
diantara hal-hal yang penting dalam belajar mencakup soal kematangan anak untuk
belajar, oleh karena itu guru harus dengan tepat menyesuaikan dengan bahan
pengajaran yang kompleks dengan tahap perkembangan anak. Ini berarti bahwa guru
harus sering menunggu tahap perkembangan anak yang tepat untuk menyampaikan
bahan tertentu kepadanya.
Gagne
memberikan suatu alternatif pemecahan masalah kematangan untuk belajar bagi
anak. Ia mennjukan perbedaan antara kematangan perkembngan dengan keterampilan
intelektual yang dipelajari dengan sungguh-sungguh. Kalau anak tak dapat
menyelesaikan sesuatu tugas, mungkin karena anak itu belum memiliki
keterampilan subordinat yang berhubungan dengan tugas itu, dan sebagai
prerequisitnya, anak dapat mempelajari tugas apa saja kalau ia sudah memiliki
keterampilan intelektual yang menjadi prerequisit tugas itu. Guru tak perlu
menunggu perkembangan anak, tetapi dengan mengikuti prosedur intruksional, anak
dapat mencapai tujuan pengajaran itu.
2.
Implikasi Discovery Learning dari
Bruner
Dengan
menekankan pada discovery murid akan
belajar mengorganisir problem-problem daripada menghadapi problem-problem itu
dengan metode hit and miss. Motivasi
intrinsik lebih baik dari pada bentuk ganjaran dari orangtua, guru atau
teman-temannya. Ganjaran eksternal anak menghasilkan rote learning dengan sedikit pengertian atau penguasaan daripada
lingkungan. Discovery learning mengarah
pada self reward, dengan ini anak
akan mencapai keputusan karena telah menemukan pemecahan problem sendiri.
Dalam
praktek banyak cara untuk melakukan discovery
learning. Ada yang menggunakan teknik diskusi kelompok. Berikut ini ada
beberapa saran tentang usaha memperbaiki diskusi kelompok.
1. Saudara
dan anggota kelompok harus tahu secara pasti tujuan daripada diskusi itu
2. Ciptakan
suasana yang menyenangkan agar anggota bisa berpartisipasi secara aktif
3. Bentuklah
tone dari kelompok itu. Berilah garis bimbingan
4. Peranan
saudara tampak secara jelas
5. Ketahuilah
kapan diskusi itu berakhir
6. Buatlah
kesimpulan secara ringkas tetapi jelas.[7]
C.Implikasi teori belajar
humanistik
a. Guru
sebagai fasilitator
Psikologi
humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini
adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas
fasilitator.
Ø Fasilitator
sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok.
Ø Fasilitator
membantu anak untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di
dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang lebih bersifat umum
Ø Dia
mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas
dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka
Ø Dia
menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan
oleh kelompok
Ø Bilamana
cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperan
sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan
turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu seperti siswa yang lain
Ø Dia
mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam kelompok. Perasaannya dan juga
pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan tetapi sebagai suatu
andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak siswa.
Ø Di
dalam berperan sebagai fasilitator pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan
menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
b. Ciri-ciri
humanistik mengenai guru-guru yang baik dan kurang baik
Menurut Hamacheek, guru-guru yang
efektif mereka mempunyai rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis daripada
autokratik, dan mereka mampu berhubungan dengan mudah dan wajar dengan para
siswa baik secara perorangan atau kelompok. Ruang kelas tampak seperti suatu
perusahaan kecil dengan pengertian bahwa mereka lebih terbuka, spontanitas dan
mampu menyesuaikan diri kepada perubahan. Guru yang tidak efektif jelas kurang
memiliki rasa humor, mudah menjadi tidak sabar, menggunakan komentar-komentar
yang melukai dan mengurangi rasa ego, kurang terintegrasi cenderung bertindak
agak otoriter, dan biasanya kurang peka terhadap kebutuhan-kebutuhan siswa
mereka. Guru-guru yang percaya bahwa setiap siswa itu mempunyai kemampuan untuk belajar akan mempunyai
perilaku yang lebih positif terhadap siswa-siswa mereka.
Guru sejati bukanlah mahluk yang berbeda
dengan siswa-siswanya. Ia bukan mahluk yang serba hebat. Ia harus dapat
berpartisipasi di dalam semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswanya dan
yang dapat mengembangkan rasa persahabatan secara pribadi dengan siswa-siswanya
dan tidak merasa perlu merasa kehilangan kehormatan karenanya.
c. Aplikasi
psikologi humanistik pada pendidikan
Implikasi teori humanistik dalam
pembelajaran, guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif,
mementingkan pengalaman serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam
proses belajar.
Guru-guru cenderung berpendapat bahwa
pendidikan adalah pewarisan kebudayaan, pertanggungjwaban sosial, dan bahan
pengajaran yang khusus. Mereka percaya bahwa masalah ini tak dapat diserahkan
begitu saja kepada siswa. Pada tipe ini, guru memberikan tekanan akan perlunya
sesuatu rencana pelajaran yang telah disiapkan dengan baik, materi yang
tersusun dengan logis untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan pula
dan para siswa bebas menentukan cara mereka sendiri dalam mencapai tujuan
mereka sendiri.[8]
3.
Implikasi Psikologi dalam Bidang Konseling
Konseling adalah proses belajar yang bertujuan agar klien dapat
mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri dalm proses penyesuaian dengan
lingkungan. Dalam mendefinisikan psikologi sebagai terapan dalam sebuah bidang
studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia
untuk usaha-usaha kependidikan.
Bimbingan dan penyuluhan membantu tindakan seseorang dalam membantu
orang lain dalam menyelesaikan/menghadapi lingkungannya (baik lingkungan rumah,
sekolah ataupun masyarakat), agar orang tersebut mampu membatasi kualitasnya,
sehingga orang tersebut akan optimis menjalani hidup ini.
Peran psikologi disini adalah jika seorang petugas bimbingan dan
penyuluhan menguasai psikologi, maka ia akan dengan mudah membujuk kliennya
untuk bercerita terbuka mengenai semua masalah yang sedang dihadapinya, dengan
begitu akan lebih mudah memberikan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah
tersebut. Apakah terhadap peserta didik yang masih di bangku sekolah maupun
perguruan, pelayanan bimbingan konseling diharapkan dapat membantu para peserta
didik untuk mencapai tugas-tugas perkembangan itu dengan baik.
Ditinjau dari segi psikologis, sebenarnya peserta didik adalah
pribadi yang berkembang menuju kea rah kedewasaan. Proses perkembangan itu
jelas dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik di dalam maupun di luar. Dari
dalam dipengaruhi oleh pembawaan dan kematangan, sedangkan di luar dipengaruhi
oleh faktor lingkungan, maksudnya ialah faktor dimana tempat tinggal kita ini
bisa menjadi faktor menganggu psikologi.
Perkembangan dapat berhasil dengan baik jika kedua faktor tersebut
saling melengkapi. Untuk mencapi perkembangan yang baik dan optimal harus ada
asuhan dan arahan. Asuhan yang terarah dan proses perkembangan dengan melalui
proses belajaran sering disebut pengajaran. Namun hal ini tidak menjangkau segi
psikologi yang bersifat pribadi. Oleh karena itu masih dibutuhkan bimbingan dan
konseling untuk memberikan asuhan terhadap proses perkembangan pribadi peserta
didik tersebut.
Selain itu, aspek psikologis yang melatarbelakangi perlunya
bimbingan dan konseling dalam bidang pendidikan dikarenakan adanya perbedaan
individual peserta didik. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak ada dua orang
individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik aspek fisik
maupun aspek psikisnya. Inilah yang disebut dengan keunikan individu, dimana
individu yang satu berbeda dengan individu yang lainnya. Mengingat bahwa yang
diharapkan dari pendidikan itu adalah perkembangan yang optimal dari setiap
individu, maka masalah perbedaan individual menjadi perhatian dalam pelayanan
pendidikan.
Sekolah ataupun perguruan tinggi dituntut untuk memberikan bantuan
kepada para peserta didik dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul dari
kenyataan adanya perbedaan individual itu. Oleh karena itu sekolah atau pun
perguruan tinggi dipandang perlu memberikan juga pelayanan kepada siswa secara
individual dengan keunikan masing-masing.
Di samping itu melalui uraian tentang latar belakang perlunya
layanan bimbingan dan konseling dalam pendidikan itu, kiranya pula dapat
dipahami tujuan pelayanan bidang pendidikan bidang pendidikan dan konseling
dalam pendidikan di sekolah ataupun di perguruan tinggi itu tidak lain adalah
membantu peserta didik melalui pelayanan bimbingan dan konseling agar peserta
didik dapat mencapai tahap perkembangan yang optimal baik secara akademis,
psikologis maupun secara sosial.
Perkembangan optimal secara akademis bertujuan agar setiap peserta
didik mencapai penyesuaian akademis secara memadai dan mencapai prestasi
belajar secara optimal. Perkembangan optimal secara psikologis mengandung arti
bahwa pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan agar setiap siswa dapat
mencapai perkembangan yang ditandai dengan kematangan dan kesehatan
mental/pribadi. Sedangkan perkembangan optimal dari segi sosial berarti bahwa
pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan agar setiap peserta didik dapat
mencapai penyesuaian diri dan memiliki keterampilan sosial yang memadai.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa dalam keseluruhan proses
pendidikan, program bimbingan dan konseling merupakan keharusan yang tidak
dapat dipisahkan dari program pendidikan pada umumnya. Apalagi dalam situasi
sekarang ini, dimana fungsi sekolah atau lembaga pendidikan formal tidak hanya
membekali peserta didik dengan setumpuk ilmu pengetahuan saja, tetapi juga
mempersiapkan para peserta didik untuk memenuhi tuntutan perubahan serta
kemajuan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Manfaat psikologi
dalam bidang konseling antara lain sebagai berikut:
1.
Membantu
siswa dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.
2.
Mengarahkan
siswa mencapai taraf perkembangan yang optimal baik secara akademis, psikologis
maupun sosial.
3.
Membantu
dalam mematangkan intelektual dan emosi sehingga memiliki transformasi diri.
4.
Mampu
memberikan pelayanan kepada siswa sesuai keunikan individual masing-masing.[9]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar