Senin, 19 Desember 2016

Pengertian Psikologi Belajar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu pengatahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan, dan kejadian yang ada di sekitar manusia.
Psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berupaya memahami perbedaan dan perilaku manusia termasuk para siswa yang yang satu sama lainnya berbeda. Para pendidik khususnya para guru sekolah sangat diharapkan memiliki pengetahuan psikologi yang memadai agar dapat mendidik para siswa melalui proses belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna.
Kegiatan pembelajaran merupakan inti dari kegiatan pendidikan secara keseluruhan. Dalam prosesnya, kegiatan ini melibatkan interaksi individu yaitu pengajar di satu pihak dan pelajar di pihak lain. Keduanya berinteraksi dalam satu proses yang disebut belajar-mengajar atau proses pembelajaran yang berlangsung dalam situasi belajar-mengajar pula. Supaya terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efisien, maka perilaku yang terlibat dalam proses tersebut hendaknya dapat didinamiskan secara baik. Pengajar (guru) hendaknya mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu menghasilkan perilaku belajar siswa melalui interaksi belajar-mengajar yang efektif dalam situasi belajar mengajar yang kondusif.
 Untuk dapat menghasilkan proses belajar mengajar yang baik di dalam kelas dan dapat mencapai tujuan dari pendidikan maka diperlukan psikologi sebagai suatu alat bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran di dalam kelas dan juga untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu di dalam makalah ini akan dibahas implikasi psikologi dalam proses pembelajaran.





B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan psikologi ?
2.      Apa yang dimaksud dengan belajar ?
3.      Bagaimana implikasi psikologi dalam proses pembelajaran ?

C.    Tujuan penulisan
1.      Agar dapat memahami  tentang psikologi
2.      Agar dapat memahami tentang belajar
3.      Agar dapat mengaplikasikan psikologi dalam proses pembelajaran























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Psikologi
Psikologi dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos berarti ilmu. dengan demikian Secara harfiah psychology  diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.[1]
Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/ mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses kegiatan. Sehingga psikologi dapat didefenisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku. Ada beberapa pengertian psikologi menurutpara ahli diantaranya:
Chaplin dalam dictionary of Psychology mendefinisikan psikologi sebagai the science of human and animal behavior, the study of the organism in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment. (Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika meereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan).
Sementara itu,Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld mendefinisikan psikologi jauh lebih sederhana dari pada definisi di atas, yakni psikologi ialah studi tentang hakikat manusia.
Selanjutnya, dalam Ensiklopedia pendidikan, Poerbakawatja dan Harahap membatasi arti psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa. Dalam ensiklopedia ini dibatasi pula bahwa gejala dan kegiatan jiwa tersebut meliputi respons organisme dan hubungannya dengan lingkungan.[2]
Dari penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku yang terbuka dan tertutup pada manusia,baik selaku individu maupun kelompok dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalamhal ini meliputi semua orang, barang, dan kejadian yang ada di sekiatar manusia.

B.     Pengertian Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada disekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Ada beberapa pengertian belajar yang diungkap oleh para ahli diantaranya
1.      Menurut Chaplin (1972) belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman
2.      Menurut Rober (1989) belajar adalah proses memperoleh pengetahuan.
3.      Menurut Skinner seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Education Psychlogy: The Teaching-Learning Process berpendapat bahwa  belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.[3]
4.      Menurut Crow dan Crow dalam buku Educational Psychology (1958) menyatakan “Learning is acquisition of habits, knowledge, and attitude”, belajar adalah memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Belajar dengan memuaskan minat individu untuk mencapai tujuan.
5.      Menurut C.T Morgan, belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkha laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.[4]
Bertolak dari berbagai definisi yang telah diutarakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.



C.    Implikasi Psikolgi dalam Proses Pembelajaran
1.      Implikasi Psikologi dalam Bidang Pendidikan
Menurut istilah, “pendidikan” juga disebut dengan pedagogik. Bahasa ini berasal dari bahasa Yunani kuno, yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “paes” dan “gogos”. Paes yang berarti anak dan gogos yang artinya penuntun. Jadi paedadagogos artinya adalah penuntun anak.
Secara terperinci pendidikan dapat diartikan sebagai pertolongan yang diberikan orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak untuk menuju tingkat kedewasaan yang lebih baik. Pendidikan juga suatu proses, suatu aktifitas/ suatu rangsangan yang diarahkan kepada memproduktif perubahan-perubahan tingkah laku dari seseorang yang diinginkan sesuai dengan tujuan-tujuan dari pendidikan. Tingkah laku disini diartikan tidak hanya tiap aksi, tiap respon, atau apa saja yang dikerjakan oleh seseorang tetapi juga apa yang dipikirkan, pandangan-pandangannya serta sikap-sikapnya.
Dalam hal ini psikologi banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain sebagai berikut:
a.       Kurikulum
Psikologi dipakai untuk pertimbangan dalam menyusun GBPP (Garis-garis Besar Dalam Program Pengajaran), dalam hal ini berguna agar sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak, usia anak dan sebagainya.
b.      Pengajaran
Bagi pendidik dan calon pendidik sangatlah penting kalau membekali diri dengan psikologi sebelum melakukan tugasnya sebagai pengajar, karena psikologi dapat membantu pendidik untuk menghadapi anak didiknya. Contohnya: dalam mengajar, pendidik dapat memanfaatkan penilaian pendidikan untuk memotivasi atau memberi dorongan kepada anak didik agar menjadi yang lebih baik, pendidik juga dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah.
c.       Tata tertib sekolah
Psikologi dimanfaatkan sebagai dasar pembuatan tata tertib agar anak tidak merasa tertekan, tapi dengan kesadarannya sendiri anak mau mengikuti tata tertib yang telah dibuat oleh sekolah.
Pendidikan merupakan bidang profesi yang terbanyak menerapkan psikologi, setidaknya menurut Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru, ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerlukan prinsip-prinsip psikologis , yaitu sebagai berikut:
·         Seleksi penerimaan siswa baru
·         Perencanaan pendidikan
·         Penyusunan kurikulum
·         Penelitian pendidikan
·         Administrasi kependidikan
·         Pemilihan materi pelajaran
·         Interaksi belajar mengajar
·         Pelayanan bimbingan
·         Metodologi mengajar
·         Pengukuran dan evaluasi
Manfaat psikologi dalam bidang pendidikan
1)      Membantu para tenaga pendidik dalam mengembangkan pemahaman mengenani kependidikan dan prosesnya.
2)      Memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis.
3)      Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
4)      Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
5)      Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
6)      Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
7)      Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
8)      Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
9)      Menilai hasil pembelajaran yang adil.[5]

2.      Implikasi Teori-teori Belajar Dalam Psikologi
a)      Implikasi Teori-teori Belajar dari Psikologi Behavioristik
1.  Prosedur-prosedur Pengembangan Tingkah Laku Baru
a.Shaping
Kebanyakan yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah tingkah laku kompleks, bukan hanya simple response. Tingkah laku yang kompleks ini dapat diajarkan melalui proses shaping atau successive apporoximations, beberapa tingkah laku yang mendekati respon terminal. Proses ini dimulai dengan penetapan tujuan, kemudian diadakan analisis tugas, langkah-langkah kegiatan murid, dan reinforcement terhadap respons yang diinginkan.
Fraznier mengemukakan lima langkah perbaikan tingkah laku belajar murid yaitu sebagai berikut:
a.       Datang di kelas pada waktunya.
b.      Berpartisipasi dalam belajar dan merespons guru.
c.       Menunjukkan hasil-hasil tes dengan baik.
d.      Mengerjakan pekerjaan rumah.
e.       Penyempurnaan.
b. Modelling
Modelling adalah suatu bentuk belajar yang tak dapat disamakan dengan classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam modeling, seseorang yang belajar mengikuti kelakuan orang lain sebagi model. Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modeling atau imitasi dari pada melalui pengajaran langsung.
Bandura mebagi tingkah laku imitative menjadi tigs macam yaitu:
a.       Inhibitory-disinhibitory effect: kuat lemahnya tingkah laku oleh karena pengalaman tak menyenangkan.
b.      Eleciting effect: ditunjangnya suatu respons yang pernah terjadi dalam diri, sehingga timbul respons serupa.
c.       Modeling effect: pengembangan respons-respons baru melalui observasi terhadap suatu model tingkah laku. Modeling dapat dipakai untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan akademis dan motorik.
2.Prosedur-prosedur Pengendalian atau Perbaikan Tingkah Laku
a.       Memperkuat Tingkah Laku Bersaing
Dalam usaha mengubah tingkah laku yang tidak diinginkan diadakan penguatan tingkah laku yang diinginkan misalnya dengan kegiatan-kegiatan kerjasama, membaca dan bekerja di satu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang dan melamun.
b.      Ekstingsi
Ekstingsi dilakukan dengan membuat/meniadakan peristiwa-peristiwa penguat tingkah laku. Ekstingsi dapat dipakai bersama-sama dengan metode lain seperti modeling.
Guru-guru sering mengalami kesulitan mengadakan ekstingsi karena mereka harus belajar mengabaikan misbehavioris tertentu. Tentu saja ada jenis-jenis tingkah laku yang dapat diabaikan oleh guru-guru terutama tingkah laku yang menyinggung perasaan murid-murid.
c.       Satiasi
Satiasi adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan perbuatan berulang-ulang sehingga ia menjadi lelah dan jera. Contohnya: seorang ayah yang memergoki anak kecilnya merokok menyuruh anak merokok sampai habis satu pak sehingga anak itu bosan.
d.      Hukuman
Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya diterapkan di kelas dengan bijaksana.; hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tak diinginkan dalam waktu singkat untuk itu perlu disertai dengan reinforcement. Hukuman menunjukkan apa yang tak boleh dilakukan murid, sedangkan reward menunjukkan apa yang mesti dilakukan murid.
Bukti menunjukkan bahwa hukuman atas kelakuan murid yang tak pantas lebih efektif dari pada tidak menghukum. Ada dua bentuk hukuman yaitu sebagai berikut:
1.      Pemberian stimulus derita, misalnya bentakan, cemoohan, atau ancaman.
2.      Pembatalan perlakuan positif, misalnya mengambil kembali suatu mainan atau mencegah anak untuk bermain-main bersama teman-temannya.[6]


b. Implikasi Teori-teori Belajar Psikologi Kognitif
Ahli psikologi berpendapat bahwa tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi, yaitu suatu perbuatan mengetahui atau perbuatan pikiran terhadap situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Tiga tikoh penting pengembang teori psikologi kognitif, yaitu:
1.      Piaget
Mengemukakan tentang perkembangan kognitif anak sesuai dengan perkembangan usia.
2.      Bruner
Mengembangkan psikologi kognitif dengan mengemukakan metode belajar discovery.
3.      Ausubel
Berpendapat jika pengetahuan disusun dan disajikan dengan baik, siswa akan dapat belajar dengan efektif melalui buku teks dan metode-metode ceramah.

Psikologi Gestalt ini kemudian dikembangkan oleh Kurt Lewin dengan cognitive-field psychology-nya. Teori Lewin mendasarkan pada life space, yaitu dunia psikologi dari pada kehidupan individu. Ia menjelaskan bahwa tingkah laku belajar merupakan usaha untuk mengadakan reorganisasi atau restruktur. Psikologi Gestalt menyusun belajar itu ke dalam pola-pola tertentu jadi bukan bagian-bagian.

1.Implikasi Teori Piaget untuk Pendidikan
Para pendidik memandang bahwa teori Piaget itu dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. Studi Piaget mengisyaratkan agar guru meneliti bahasa siswa dengan saksama untuk memahami kualitas berpikir anak di dalam kelas. Deskripsi Piaget mengenai hubungan antara tingkat perkembangan konseptual anak dengan bahan pelajaran yang kompleks menunjukkan bahwa guru harus memperhatikan apa yang harus diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Situasi belajar yang ideal adalah keserasian antara bahan pengajaran yang kompleks dengan tingkat perkembangan konseptual ana. Jadi, guru harus dapat menguasai perkembangan kognitif anak, dan menentukan jenis kemampuan yang dibutuhkan oleh anak untuk memahami bahan pelajaran itu.
Strategi belajar yang dikembangkan dari teori Piaget ialah menghadapkan anak dengan sifat pandangan uang tidak logis. Anak sulit mengerti sesuatu pandangan yang berbeda dengan pandangannya sendiri. Tipe kelas yang dikehendaki oleh Piaget menekankan pada transmisi pengetahuan melalui metode ceramah diskusi dan mendorong guru untuk betindaksebagai katalisator dan siswa belajar sendiri. Tujuan pendidikan bukanlah meningkatkan jumlah pengetahuan, tetapi meningkatkan kemungkinan bagi anak untuk menemukan dan menciptakan sendiri.
Satu diantara hal-hal yang penting dalam belajar mencakup soal kematangan anak untuk belajar, oleh karena itu guru harus dengan tepat menyesuaikan dengan bahan pengajaran yang kompleks dengan tahap perkembangan anak. Ini berarti bahwa guru harus sering menunggu tahap perkembangan anak yang tepat untuk menyampaikan bahan tertentu kepadanya.
Gagne memberikan suatu alternatif pemecahan masalah kematangan untuk belajar bagi anak. Ia mennjukan perbedaan antara kematangan perkembngan dengan keterampilan intelektual yang dipelajari dengan sungguh-sungguh. Kalau anak tak dapat menyelesaikan sesuatu tugas, mungkin karena anak itu belum memiliki keterampilan subordinat yang berhubungan dengan tugas itu, dan sebagai prerequisitnya, anak dapat mempelajari tugas apa saja kalau ia sudah memiliki keterampilan intelektual yang menjadi prerequisit tugas itu. Guru tak perlu menunggu perkembangan anak, tetapi dengan mengikuti prosedur intruksional, anak dapat mencapai tujuan pengajaran itu.

2. Implikasi Discovery Learning dari Bruner
Dengan menekankan pada discovery murid akan belajar mengorganisir problem-problem daripada menghadapi problem-problem itu dengan metode hit and miss. Motivasi intrinsik lebih baik dari pada bentuk ganjaran dari orangtua, guru atau teman-temannya. Ganjaran eksternal anak menghasilkan rote learning dengan sedikit pengertian atau penguasaan daripada lingkungan. Discovery learning mengarah pada self reward, dengan ini anak akan mencapai keputusan karena telah menemukan pemecahan problem sendiri.
Dalam praktek banyak cara untuk melakukan discovery learning. Ada yang menggunakan teknik diskusi kelompok. Berikut ini ada beberapa saran tentang usaha memperbaiki diskusi kelompok.
1.      Saudara dan anggota kelompok harus tahu secara pasti tujuan daripada diskusi itu
2.      Ciptakan suasana yang menyenangkan agar anggota bisa berpartisipasi secara aktif
3.      Bentuklah tone dari kelompok itu. Berilah garis bimbingan
4.      Peranan saudara tampak secara jelas
5.      Ketahuilah kapan diskusi itu berakhir
6.      Buatlah kesimpulan secara ringkas tetapi jelas.[7]

C.Implikasi teori belajar humanistik
a.       Guru sebagai fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator.
Ø  Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok.
Ø  Fasilitator membantu anak untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang lebih bersifat umum
Ø  Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka
Ø  Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok
Ø  Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu seperti siswa yang lain
Ø  Dia mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam kelompok. Perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak siswa.
Ø  Di dalam berperan sebagai fasilitator pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

b.      Ciri-ciri humanistik mengenai guru-guru yang baik dan kurang baik
Menurut Hamacheek, guru-guru yang efektif mereka mempunyai rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis daripada autokratik, dan mereka mampu berhubungan dengan mudah dan wajar dengan para siswa baik secara perorangan atau kelompok. Ruang kelas tampak seperti suatu perusahaan kecil dengan pengertian bahwa mereka lebih terbuka, spontanitas dan mampu menyesuaikan diri kepada perubahan. Guru yang tidak efektif jelas kurang memiliki rasa humor, mudah menjadi tidak sabar, menggunakan komentar-komentar yang melukai dan mengurangi rasa ego, kurang terintegrasi cenderung bertindak agak otoriter, dan biasanya kurang peka terhadap kebutuhan-kebutuhan siswa mereka. Guru-guru yang percaya bahwa setiap siswa itu mempunyai  kemampuan untuk belajar akan mempunyai perilaku yang lebih positif terhadap siswa-siswa mereka.
      Guru sejati bukanlah mahluk yang berbeda dengan siswa-siswanya. Ia bukan mahluk yang serba hebat. Ia harus dapat berpartisipasi di dalam semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswanya dan yang dapat mengembangkan rasa persahabatan secara pribadi dengan siswa-siswanya dan tidak merasa perlu merasa kehilangan kehormatan karenanya.

c.       Aplikasi psikologi humanistik pada pendidikan
Implikasi teori humanistik dalam pembelajaran, guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Guru-guru cenderung berpendapat bahwa pendidikan adalah pewarisan kebudayaan, pertanggungjwaban sosial, dan bahan pengajaran yang khusus. Mereka percaya bahwa masalah ini tak dapat diserahkan begitu saja kepada siswa. Pada tipe ini, guru memberikan tekanan akan perlunya sesuatu rencana pelajaran yang telah disiapkan dengan baik, materi yang tersusun dengan logis untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan pula dan para siswa bebas menentukan cara mereka sendiri dalam mencapai tujuan mereka sendiri.[8]

3.      Implikasi Psikologi dalam Bidang Konseling
Konseling adalah proses belajar yang bertujuan agar klien dapat mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri dalm proses penyesuaian dengan lingkungan. Dalam mendefinisikan psikologi sebagai terapan dalam sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.
Bimbingan dan penyuluhan membantu tindakan seseorang dalam membantu orang lain dalam menyelesaikan/menghadapi lingkungannya (baik lingkungan rumah, sekolah ataupun masyarakat), agar orang tersebut mampu membatasi kualitasnya, sehingga orang tersebut akan optimis menjalani hidup ini.
Peran psikologi disini adalah jika seorang petugas bimbingan dan penyuluhan menguasai psikologi, maka ia akan dengan mudah membujuk kliennya untuk bercerita terbuka mengenai semua masalah yang sedang dihadapinya, dengan begitu akan lebih mudah memberikan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah tersebut. Apakah terhadap peserta didik yang masih di bangku sekolah maupun perguruan, pelayanan bimbingan konseling diharapkan dapat membantu para peserta didik untuk mencapai tugas-tugas perkembangan itu dengan baik.
Ditinjau dari segi psikologis, sebenarnya peserta didik adalah pribadi yang berkembang menuju kea rah kedewasaan. Proses perkembangan itu jelas dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik di dalam maupun di luar. Dari dalam dipengaruhi oleh pembawaan dan kematangan, sedangkan di luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan, maksudnya ialah faktor dimana tempat tinggal kita ini bisa menjadi faktor menganggu psikologi.
Perkembangan dapat berhasil dengan baik jika kedua faktor tersebut saling melengkapi. Untuk mencapi perkembangan yang baik dan optimal harus ada asuhan dan arahan. Asuhan yang terarah dan proses perkembangan dengan melalui proses belajaran sering disebut pengajaran. Namun hal ini tidak menjangkau segi psikologi yang bersifat pribadi. Oleh karena itu masih dibutuhkan bimbingan dan konseling untuk memberikan asuhan terhadap proses perkembangan pribadi peserta didik tersebut.
Selain itu, aspek psikologis yang melatarbelakangi perlunya bimbingan dan konseling dalam bidang pendidikan dikarenakan adanya perbedaan individual peserta didik. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik aspek fisik maupun aspek psikisnya. Inilah yang disebut dengan keunikan individu, dimana individu yang satu berbeda dengan individu yang lainnya. Mengingat bahwa yang diharapkan dari pendidikan itu adalah perkembangan yang optimal dari setiap individu, maka masalah perbedaan individual menjadi perhatian dalam pelayanan pendidikan.
Sekolah ataupun perguruan tinggi dituntut untuk memberikan bantuan kepada para peserta didik dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul dari kenyataan adanya perbedaan individual itu. Oleh karena itu sekolah atau pun perguruan tinggi dipandang perlu memberikan juga pelayanan kepada siswa secara individual dengan keunikan masing-masing.
Di samping itu melalui uraian tentang latar belakang perlunya layanan bimbingan dan konseling dalam pendidikan itu, kiranya pula dapat dipahami tujuan pelayanan bidang pendidikan bidang pendidikan dan konseling dalam pendidikan di sekolah ataupun di perguruan tinggi itu tidak lain adalah membantu peserta didik melalui pelayanan bimbingan dan konseling agar peserta didik dapat mencapai tahap perkembangan yang optimal baik secara akademis, psikologis maupun secara sosial.
Perkembangan optimal secara akademis bertujuan agar setiap peserta didik mencapai penyesuaian akademis secara memadai dan mencapai prestasi belajar secara optimal. Perkembangan optimal secara psikologis mengandung arti bahwa pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan agar setiap siswa dapat mencapai perkembangan yang ditandai dengan kematangan dan kesehatan mental/pribadi. Sedangkan perkembangan optimal dari segi sosial berarti bahwa pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan agar setiap peserta didik dapat mencapai penyesuaian diri dan memiliki keterampilan sosial yang memadai.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa dalam keseluruhan proses pendidikan, program bimbingan dan konseling merupakan keharusan yang tidak dapat dipisahkan dari program pendidikan pada umumnya. Apalagi dalam situasi sekarang ini, dimana fungsi sekolah atau lembaga pendidikan formal tidak hanya membekali peserta didik dengan setumpuk ilmu pengetahuan saja, tetapi juga mempersiapkan para peserta didik untuk memenuhi tuntutan perubahan serta kemajuan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
            Manfaat psikologi dalam bidang konseling antara lain sebagai berikut:
1.      Membantu siswa dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.
2.      Mengarahkan siswa mencapai taraf perkembangan yang optimal baik secara akademis, psikologis maupun sosial.
3.      Membantu dalam mematangkan intelektual dan emosi sehingga memiliki transformasi diri.
4.      Mampu memberikan pelayanan kepada siswa sesuai keunikan individual masing-masing.[9]













[1] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi Offset, 2010) hal. 05
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010) hal. 09-10
[3]  Muhibbinsyah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015) hal 64-66
[4]  Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung:Pustaka Setia,2011) hal 218
[5] Nurussakinah Daulay, Psikologi Umum, (Medan) hal. 87
[6] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008)hal 218-221
[7] Ibid., hal 227
[8] Ibid., hal 235
[9] Nurussakinah Daulay, Psikologi Umum, (Medan) hal. 89

Tidak ada komentar:

Posting Komentar